Sudahlah Pria, Tak Perlu Menangis Hanya Karena Cinta

Uncategorized 1 Comment »

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…

Tiba-tiba saja pria di sampingku bertutur demikian. Yah, aku memang
sedang menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi cintaku.

Rasanya telah terlalu lama aku bersabar, terlalu lama. Rasanya tak
ada lagi yang ingin aku simpan untuk hanya menjadi beban, rasanya ingin
ku ungkap semua rasa. Ingin ku ungkap semua perih ini, semua sakit ini,
semua beban rindu ini.

Bidadari, mengertikah kamu?

Bertarung aku sendirian melawan perasaan diriku. Bertarung sendirian! Mengertikah kamu?

Mencabik tiap rasa yang tumbuh dari akar hati ini, mencabik
terus-menerus hingga tak ada yang tersisa namun akar tetaplah menjejak
dalam bumi! Mengertikah kamu?

Memohon Tuhan menghapus rasa ini agar dia kembali normal, memohon
dengan sangat padahal dianya adalah fitrah setiap manusia. Aku memohon
keburukan untuk sesuatu yang menjadi fitrahku! Mengertikah kamu?

Kamu tidak pernah mengerti bidadari karena aku tak pernah
mengatakannya kepadamu. Dan aku berharap rasa itu tetap terkubur rapat
di dasar terdalam hatiku. Aku ingin engkau tidak pernah tahu. Aku ingin
rasa itu cukup aku yang mengerti. Aku ingin kita tetap seperti dulu!
Mengertikah kamu?

Nanti. Nanti jika rasa itu telah halal untukku ungkapkan, akan aku
ceritakan hingga bagian terkecil yang bahkan engkau pun menjadi ragu,
”adakah ia di dalam diriku.”

Nanti. Nanti jika kamu telah siap dan aku telah mampu berdiri tegak.

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…

Kali ini lelaki di sampingku menepuk pundakku. Posisiku tercekung,
kedua tanganku melipat kakiku yang menyiku, rapat hingga belikatku
menembus kulit punggungku. Kepalaku berada diantara dua siku lutut yang
saling beradu. Di antara betisku, ada air dari kedua mataku. Dibawah
kakiku, pantatku, bayangku, pepasiran telah basah. Sungguh, aku sedang
menangis wahai bidadari. Aku menangisi diriku karenamu. Karena kamu…

Lelaki itu mulai memelukku, pelukan yang erat namun terasa lembut.
Amat sangat lembut dan menenangkan. Entah mengapa aku serasa dalam
ekstase. Ada sedikit beban yang hilang.

Kali ini, pelukan itu serasa lebih erat. Lelaki itu mengencangkan
pelukannya kepadaku. Samar aku mendengar dia berbisik lirih, ”Pria…”

Aku serasa tak peduli. Aku hanya ingin kembali menata hatiku. Ada
banyak cobaan yang kuhadapi, ada banyak rintangan, namun mengapa soal
urusan cinta menjadi yang terberat? Mengapa harus cinta? Mengapa tidak
yang lain yang jelas siapa kawan dan siapa lawan. Terhadap cinta,
bahkan para pahlawan menjadi lemah dan tak berdaya.

”Aku mengerti pria apa yang sedang kamu rasakan. Aku pernah seperti
itu, bahkan lebih berat. Namun kamu tidak perlu menangis.” Lelaki di
sampingku berbisik samar.

”Apa salah aku menangis?”

”Menangislah terhadap Tuhanmu, itu akan lebih berguna daripada untuk
dirimu sendiri. Karena Tuhanmu lebih mengerti dirimu daripada dirimu
mengerti tentang kamu.” Jawab lelaki itu.

Aku mengatup mulutku, mengigit bibir bawah. Lelaki di sampingku itu
benar, seharusnya aku seperti apa yang dia ucapkan, seharusnya. Namun
hati ini masih terlalu rindu, dan rindu itu tertahan hingga yang
mengalir hanyalah air mata.

”Apa kamu tahu lelaki, air mata ini bukan aku yang menginginkan. Dia
memancar dengan sendirinya seperti mata air. Mata air dari hati yang
sedang merindu.” Aku jujur.

Pelukan itu kini terasa lebih erat dari sebelumnya, lelaki itu tidak
juga hendak melepaskan pelukan itu, pelukan semakin mengencang. Aku
merasa seperti sesosok yang begitu lemah dalam pelukannya, aku merasa
telah kehilangan aku yang jantan. Tuhan menciptakan manusia sempurna,
dalam kesempurnaan Tuhan juga menciptakan hati, dan karena hati maka
pria paling jantan pun menjadi seperti mati.

”Hapuslah tangisan itu pria, hapuslah!” Lelaki itu kini menegas.

Air mataku bukan terhenti malah semakin mengucur deras. Aku
benar-benar tak sanggup untuk menghentikan tangisan ini, aku sama
sekali tak sanggup. Andai lelaki itu mengerti apa yang sedang aku
rasakan, andai ia mengerti apa yang berkecamuk di dalam dada, anda ia
tahu.

”Bukanlah sudah kukatakan aku juga pernah seperti itu.” Tiba-tiba
lelaki itu berkata seolah membaca apa yang kupikirkan. Tiba-tiba aku
menjadi takut, apa dia iblis atau malaikat yang terutus untuk
menenangkan aku? Aku takut.

”Andai aku mampu tegak sedari dulu. Andai aku mengucapkan lebih awal.” Aku mengingat kesalahanku.

Tiba-tiba lelaki di sampingku itu berdiri, mungkin hendak beranjak.
Kini dia berdiri di depanku. Badannya sedikit dirukukkan, kedua
tangannya memegang pundakku. Kini dia berjongkok di depanku. Aku
terkejut. Dia juga menangis.

”…” Episode diam.

Kali ini dia memelukku erat hingga aku merasa sesak. Aku mampu mencium bau harum minyak rambutnya, wangi khas seorang pria.

”Bukankah sudah kukatakan, aku juga pernah seperti kamu. Bukankah
sudah kukatakan!” Ucapnya lirih. ”Tolong jangan menangis lagi pria, tak
perlu ada air mata yang harus dialirkan oleh mata seorang pria hanya
karena cinta. Tangguhlah, bersabarlah, semoga Tuhan memberikan yang
terbaik dari kisah-kisah kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang paling baik
yang akan memberikan yang baik-baik dan terbaik untuk kisah-kisah
terbaik. Jangan meragukan Tuhan pria, jangan sama sekali. Bersabarlah
pria, dan tak perlu menangis.”

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…

Aku tak menyangka akan seperti ini. Dia adalah wanita terbaik yang
pernah kutemui diantara semua wanita di dunia ini. Aku mengagumi betapa
lembut dan tangguh ruhiyahnya. Aku kagum akan keistiqamahannya.
Bagaimana dia tahajud di setiap penghujung malam, bagaimana
senin-kamisnya tak pernah sepi dari rasa lapar karena puasa sunnah,
bagaimana dia berusaha mensucikan hatinya.

Aku merasa telah menemukan apa yang sedang kucari selama ini. Bidadari.

Lahiriahnya, aku mencintainya. Ruhiyahnya lebih aku cintai daripada
lahiriyahnya. Tak banyak wanita yang seperti dia, tak banyak. Bahkan
aku berani sumpah!

Bahkan seribu bidadari tak akan lebih baik daripada dirinya.
Keutamaan dirinya daripada bidadari adalah seperti yang tampak dengan
yang semu. Seperti kebenaran dengan khayalan. Kebenaran tetap lebih
indah daripada sekedar khayalan. Karena Tuhan menyinari wajahnya dengan
keimanan.

Dan orang itu pasti adalah pria yang terbaik. Hanya yang terbaik mendapatkan yang terbaik. Quran telah menjanjikan itu.

Apalah aku. Dengan keimanan yang carut-marut, dengan ruhiyah yang
fluktuatif, aku benar-benar yang terburuk daripada yang terburuk. Aku
merasa bahwa aku generasi gagal tarbiyah.

Dari sisi keimanan, tentu Tuhan lebih mencintai dia daripada aku.
Tentu Tuhan lebih memberikan yang terbaik bagi dirinya daripada bagi
diriku. Tuhan memiliki keinginan tersendiri terhadap kisahku dan
kisahnya. Hingga pada suatu kisah seorang pria terbaik ditakdirkan
untuk wanita terbaik.

Aku pasrah…

Karena cinta, aku menginginkan segala hal terbaik untuk orang yang
terkasihi. Aku menginginkan segala yang terbaik untuknya. Aku
menginginkan itu. Jujur aku memang menginginkannya, namun rasanya lebih
pantas jika seorang pria lain yang terbaik untuk dirinya. Seorang pria
dengan dedikasi kuat, keimanan baja, tangguh, sabar, dan penyayang.
Seorang pria yang mencintainya bukan karenanya tetapi karena Allah.

Bidadari, aku mencintaimu karena Allah.

Aku mulai mengerti rasa yang berkecamuk di dalam diriku ini
sebenarnya apa, sekarang aku mulai mengerti setelah aku mulai bisa
mengeja bahwa tidak lama lagi kita akan berjarak. Baru aku menyadari
betapa segala kekagumanku selama ini terhadapmu, segala keistiqamahanmu
itu membuatku mencintaimu. Bidadari, aku mencintaimu karena Allah. Dari
itu aku sadar, walau aku akan berjarak denganmu namun ada satu yang
tidak pernah berjarak denganku dan aku tak akan pernah kehilangan Dia.
Aku tidak akan pernah kehilangan Tuhanku.

Lantas Tuhan berfirman, shibghah manakah yang lebih baik daripada shibgah Allah.

Bidadari, aku mencintaimu karena Allah.

Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…

Cerita ini kupersembahkan untuk seorang temanku yang terluka oleh
cinta, untuk seseorang teman yang memendam cinta terhadap seorang
bidadari yang akan dikhitbah oleh pria lain yang terbaik. Temanku,
bersabarlah, tak perlu ada tangis dari mata pria karena cinta. Semoga
Tuhan menceritakan kisah terbaik untuk dirimu dan dirinya.

Neraka Hati

Uncategorized No Comments »

Aku ingin tak peduli padamu, namun aku selalu menjadi peduli.

Aku ingin segera melupakanmu, namun kamu selalu dalam ingatanku.

Aku ingin membencimu, namun tahukah dirimu betapa aku saat ini begitu mencintaimu?

Aku ingin pergi jauh darimu, namun aku selalu merindukanmu di sisiku.

Aku ingin memalingkan wajahku darimu, namun parasmu selalu ada dalam hatiku.

Betapapun aku berbuat sesuatu, aku hanya dia yang tak pernah ada
bukan? Aku tak pernah berada dalam posisi penting dihatimu. Aku hanya
mereka yang kau jadikan pelampiasan. Dan aku segera muak dengan semua
itu. Dan aku segera benci dengan tingkahmu. Dan aku menjadi benar-benar
benci.

Awalnya aku merasa dirimu adalah jawaban pastiku. Awalnya aku merasa
dirimu adalah anugerah Tuhan untukku. Bukankah dirimu mengetahui bahwa
betapa aku ingin menikahimu? Namun sekarang itu bagai neraka. Neraka Hati, aku menamakannya.

Jauh di dalam hatiku jika kamu bisa menyelaminya, ada sebuah palung
dalam. Di dalam palung itu ada sebuah peti besi yang terbungkus rapi
oleh sutera tak bercacat. Tahukah kamu apa isi peti itu? Namamu!

Aku cemburu? Yah, kamu benar. Aku benar-benar cemburu!

Bagaimana mungkin makhluk yang hanya kamu ketahui dari chatting,
makhluk yang hanya pernah kamu lihat fotonya, makhluk yang hanya
berbicara lewat udara lebih kamu cintai daripada aku yang nyata.

Maaf, aku memang tak pandai merayu. Aku bukan tipikal pria seperti
itu. Aku hanya seorang pria yang selalu menunggu dan berharap pasti
bahwa Tuhan akan menurunkan sesosok bidadari untukku. Aku hanya
mengharapkan itu.

Bahwa aku mencintaimu? Yah, itu yang terjadi saat ini. Itulah yang sedang berkelangsungan.

Aku berharap aku segera melupakanmu. Aku berharap bahwa esok dirimu
sirna dihatiku. Aku berharap peti yang berada dalam palung terdalam
hatiku berganti nama dengan nama seorang bidadari. Aku hanya berharap
itu untuk masa depan kelak.

Bagaimana perasaanmu jika dirimu yang berada dalam posisiku. Posisi
seseorang yang sedang mencintai seseorang lainnya namun orang lain itu
ternyata lebih memilih mereka yang lain. Namun orang itu juga tetap
memberi harapan kepadamu seolah kamu sedang dicintai padahal orang
tersebut sama sekali tidak mencintaimu.

Dan tidakkah engkau melihat retakan pada palung-palung terdalam?
Yang merekah bersama lempengengan yang terus bergerak. Terceruk. Dan
saat awan menyentuh bumi, saat udara menjadi tak terkendali dan
menghancurkan segala sesuatu.

Dan lihatlah bintang, yang berpendar oleh nyala api. Yang terus
hidup hingga mati dalam ledakan indah membentuk mawar merah di langit.

Apakah engkau sering menatap angkasa? Bagaimana gumul-gumul awan yang saling menimpa. Bagaimana mendung tercipta?

Sungguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh hati ini begitu sakit.
Sungguh-sungguh-sungguh sakit sekali rasa hati ini. Hati yang terbakar
oleh cemburu. Hati yang terduakan. Sama seperti perasaan Tuhan saat
diduakan. Kamu telah syirik sayangku, kamu telah menduakan aku!

Taman Surga…

Dulu aku mengimpikannya, dulu aku begitu menginginkanmu bahkan
hingga detik ini perasaan itu terus berkelangsungan. Berkembang pesat
hingga aku menjadi aku yang ingin mengembangkan sayap menutupi dirimu
dari dingin udara yang tak bersahabat, menjadi payungmu saat mentari
terik menyengat, menjadi bilik untukmu berteduh saat hujan dan menjadi
selimut untuk malam-malam dinginmu.

Aku ingin menjadi cahaya di malam. Cahaya yang tak perlu begitu
terang. Hanya cahaya kecil yang lemah, cahaya yang cukup untuk dirimu
merasa bahwa kamu tidak sedang berada dalam tempat yang gelap karena
aku tahu kamu takut gelap.

Aku ingin menjadi lagu-lagu tembang kenanganmu untuk membawamu tidur
dalam pelukan mimpi-mimpi indah. Karena aku tahu betapa banyak mimpi
buruk yang terus menyertaimu.

Aku ingin menjadi seperti semua itu. Aku ingin menjadi pelindungmu.
Namun rasanya itu hanya kekonyolanku. Aku tahu kamu tidak mengharapkan
itu dariku, karena aku hanya pelampiasanmu. Aku tahu.

Aku ingin menyanyikan satu lagu kepadamu, namun seperti yang kamu tahu, aku tak pernah mampu mengingat syair-syair lagu.

Kamu, telah tinggal dalam hati
Dan takkan aku lepas lagi
Tetaplah kau di sini

Kamu, bagaikan bidadari
Datang dan turun ke bumi
Menetap dalam nadi

Kamu, wanita pilihanku
Kamu cinta matiku
Hiduplah bersamaku

Kamu, redakan ambisiku
Menepiskan khilafku
Bidadari surgaku

Bila kita bersama
Kita kan bahagia
Kan kudendangkan lagu
Itu hanya untukmu

Bila engkau pergi
Bawaku bersamamu
Karena aku setia padamu

Ku mohon padamu
Jadilah pengantinku
Aku takut kehilanganmu

Itu lagu yang selalu ingin kunyanyikan untukmu. Semoga engkau mengerti sekarang. Semoga engkau memahami apa makna Neraka Hati.

Bedah Buku LASKAR PELANGI

Uncategorized No Comments »

Imgp3623
Hari ini, Sabtu 9 Februari 2008. Di gedung AAC Darussalam, Banda
Aceh. Diadakan Bedah Buku yang menjadi Inspirational books of 2007,
Buku Laskar Pelangi.

Awalnya 2-3 hari sebelum hari H, aku mengetahui info ini dari Bang
Qudri, dia meng-sms diriku memberitakan akan diadakannya Bedah Buku
Laskar Pelangi. Awalnya aku tak begitu tertarik, namun sesosok nama Andrea Hirata mampu membuatku mambalik hati. AKU IKUT !

Suasana acara bedah buku santai banget, dan aku baru tahu ternyata
seorang Andrea Hirata adalah sosok yang kocak dan murah senyum. Ada
kejadian menarik saat sesi berakhir dan kami ke depan gedung (di luar
aula pertemuan) untuk session tanda tangan. Aku kira cuma aku saja yang
membawa buku untuk ditandatangani, ternyata ada begitu banyak manusia
yang berjubel yang haus akan tanda tangan si mr. soft playboy (Andrea Hirata). Aku sempat ditanya sama si ikal, “Dari kedokteran juga ya?” Aku jawab, “Bukan, teknik mesin.”  Mungkin karena aku berkacama kuda yah makanya dia berasumsi demikian.

Dari banyaknya tanya jawab tersebut, aku jadi merindukan buku terakhir dari seri Tetralogy Laskar Pelangi: Maryamah Karpov.
Andrea berkata bahwa di bukunya tersebut (Maryamah Karpov .red) akan
banyak menceritakan tentang sisi keluarganya, tentang ibunya, tentang
yang lainnya. Dan aku menjadi antusias, tak sabar menunggu.

Dalam bedah buku juga dikatakan bahwa Laskar Pelangi akan difilmkan.
Disutradari oleh Riri Reza dan diproduksi oleh Miles Film. Jujur,
disatu sisi aku senang Laskar Pelangi akan difilmkan, namun disatu sisi
aku akan kecewa berat. Film membuat imajinasi terhenti, alih-alih aku
takut apa yang kubayangkan selama aku berkelana dalam setiap seri dari
tetralogy Laskar Pelangi tak akan menjadi seperti itu lagi. Film hanya
akan membuat imajinasiku terhenti dan mati. Sama seperti saat ayat-ayat
cinta difilmkan, aku kecewa.

Andrea juga berkata-kata tentang Laskar Pelangi in Action. Kepada semua orang yang bertanya tentang Lintang, mungkin di sana anda akan menemukan sosok Lintang.

Pada session tanya-jawab, banyak sekali yang bertanya tentang
Lintang, tentang proses bagaimana Laskar Pelangi lahir, dll. Aku pun
mengacungkan tangan saat session tanya-jawab dilakukan, namun sayangnya
aku tak pernah terpanggil, aku tersisihkan. Alih-alih bertanya tentang
Lintang, jika diberi kesempatan untuk bertanya, aku cuma ingin bertanya
satu hal kepada sang Mr Soft Playboy, “Bang ikal, bagaimana dengan A Ling?” Cuma itu.

Huff, mau cerita apalagi yah? Oh iya, pada saat bedah buku juga
dikatakan bagaimana kondisi penerbitan. Ternyata dunia penerbitan
sedang megap-megap. Ironis.

Satu hal yang perlu diingat, Semua royalti dari buku Laskar Pelangi akan disumbangkan kepada Laskar Pelangi in Action untuk pendidikan anak-anak Bangka Belitong. So, DIHARAPKAN UNTUK TIDAK MEMBELI BUKU BAJAKAN !!!

Selaksa Hampa

Uncategorized No Comments »

Selaksa hampa!

Berjuta perasaan yang ada di dalam hati, semuanya hanya satu; jenuh.
Dan jenuh itu akan terus ada, serasa abadi. Begitu absolut. TAK
TERGUGAT!

Tak pernah aku membagi perasaan ini, tak pernah kecuali pada
seseorang. Saat jenuh ini mencapai titik akumulasi, aku menghubunginya.
Seseorang nan jauh ada di sana, di pulau Jawa, di Malang. Kepadanya aku
membagi perasaan ini, namun aku tak pernah ingin jujur. Aku hanya jenuh
teman.

Apakah kamu mengerti apa yang disebut dengan sepi?

Apakah kamu paham apa yang dimaknai dengan kehampaan?

Apakah kamu pernah mengeja arti tiap kesunyian?

Sunguh-sungguh-sungguh-sungguh-sungguh… rasa itu amat mendalam. Rasa yang berasal dari kekosongan jiwa.

Kekosongan yang amat pekat, bahkan kepada seseorang yang selama ini
kuanggap kucintai pun tak pernah aku membaginya, karena aku yakin
hasilnya sama saja. Dia tidak akan pernah memperdulikanku.

Teman, aku sama sepertimu. Aku bagian dari kesepian.

Selamat datang di dunia sunyi. Dunia yang hingar-bingar namun kau tetap merasa sendiri. Selamat datang!

Teman, apa yang kau rasakan adalah telah lebih dahulu aku rasakan.

Teman, bahkan yang kuceritakan kepadamu bukanlah apa-apa dibalik
rahasia betapa sepinya diriku ini. Amat sangat menekan rasa itu, namun
amat sangat longgar. Seperti kau memeluk belikat dari tangan
berlawananmu, membuat rusuk saling beradu, menyesakkan hingga tak ada
nafas yang menghembus dari paru. Teramat menyiksa.

Teman, apakah engkau mengerti itu? Apakah engkau memahami?

Senyumku, tawaku, tak akan berarti apa-apa. Dalamku masih tetap
seperti dulu, sepi yang menumpuk, jenuh yang mensemesta. Selaksa hampa.

Teman, pernahkah engkau merasakan seperti ada gumpalan menyesakkan
di dalam hatimu? Kumpalan itu tak membesar juga tak mengecil, hanya
semakin menekan. Bahkan dia tak hilang ditelan masa. MEMBUSUK!

Selaksa hampa…

Seperti jatuh dalam jurang yang tak mendasar. Jurang hitam yang
begitu pekat. Jurang yang memiliki tekanan tak terbatas. Jurang yang
amat sangat tak engkau mengerti. Aku menamakannya jurang kehampaan.

Selaksa hampa… demikian adanya.

Mas Wawan

Uncategorized No Comments »

“Mas Wawan tu dah berubah, ga kaya dulu. Gara-gara Datul bilang kalo Beni mo nikah ma Datul.”

”Buat apa kasih dia? Foto itu dirobek aja atau dibakar aja, gampang kan?”

”Bukan gitu tapi Datul emang ga suka foto-foto. Mas Wawan tuh
mungkin saja sekarang dah punya pacar. Mana boleh Datul ganggu dia.”

”Beni ga salah kok. Ga usah minta maaf ya… :). Tentang Mas Wawan
dah berubah itu lupain aja. Datul ga pernah harap apa-apa. Cuma ga
pengen kehilangan teman aja. Kalo emang dia ga mau sms-an ma Datul
lagi, ya ga papa, terserah dia, asal dia senang. Itu udah cukup :-).”

”Cinta apaan, kan cuma suka.”

……….

Waktu sms-an itu berlangsung, malam sedang berlangsung. Dan aku cuma
ditemani para bintang dan makhluk malam. Aku cuma bisa tersenyum,
kecut. Kasihan Datul.

Datul? Oh, jika kalian belum mengenalnya mungkin kalian lebih familiar dengan istillahku tentang dia, Taman Surga. Aku mengambil julukan itu dari namanya, Raudhatul Jannah. Taman Surga, yah aku memang menginginkannya seperti aku merindukan surga.

Tapi kali ini aku tidak akan bercerita tentang Datul, aku ingin bercerita kepada sosok yang bernama Wawan. Yah, namanya Mas Wawan.
Sosok yang membuat Datul menolak janjiku untuk selalu setia tanpa
poligami, menolak keinginan tulusku untuk meminangnya, menolak sebuah
ketulusan hati dalam bingkai cinta, menolak seorang pria yang merasa
dirinya memiliki seribu kesabaran untuk bersabar akan kelabilan jiwa
dan kekeras-kepalaan, menolak… Dia melakukan atas nama sosok itu, atas
nama Wawan. Kasihan Datul.

Jujur, dari lubuk hatiku yang teramat dalam, aku masih mencintai wanita itu, wanita yang kuberi nama Taman Surga.
Aku masih mencintainya. Bahkan aku akan merelakan melepas cintaku
padanya jika itu inginnya. Aku ingin tetap melihatnya tersenyum, bahkan
hingga dia kelak menutup mata menuju keabadian. Aku cuma ingin dia
tersenyum, bahagia.

Melepaskannya untuk seorang Wawan bukanlah berarti apa-apa, asal
senyum itu tetap pada wajahnya. Bahkan kadang ingin kuberikan berjuta
mawar putih untuknya atau akan kuceritakan episode-episode terbaik
dalam hidupku untuknya, namun aku yakin dia akan menolaknya. Mungkin
kini aku telah pupus dimatanya, ada seseorang yang begitu berarti
baginya aku rasa, sosok yang akan terus melanjutkan senyumnya. Mas
Wawan.

Andai bisa, aku ingin Mas Wawan membaca blogs-ku terutama
tentang bagian ini. Aku ingin dia tahu, aku ingin dia mengerti bahwa
betapa ada seseorang yang sedang jatuh hati kepadanya. Aku ingin agar
Mas Wawan tak membuatnya kecewa, aku ingin agar engkau melanjutkan
senyum diwajahnya. Aku menginginkan itu.

Tak akan pernah aku peduli sesiapa yang akan melanjutkan senyum itu,
tak akan pernah. Tak peduli itu kamu, atau pria yang lain. Yang aku
inginkan adalah senyum itu tidak mengering, aku ingin dia terus
tertawa. Cukup sudah tangisan-tangisannya. Cukup sudah dia hanya
menjadi pelampiasan rasa sepi. Aku ingin agar engkau atau dia menjadi
pelanjut senyum diwajahnya, seorang pelanjut dengan ketulusan,
seseorang yang melakukannya atas dasar kebenaran cinta bukan hanya
karena engkau merasa sepi atau suntuk. Aku cuma menginginkan itu.

Mas Wawan. Aku mengenalnya hanya dari segelintir sms-an kami.
Seorang pria nan jauh di pulau Jawa sana, seorang pria yang tengah
kesakitan dilanda penyakit. Seorang pria yang sedang dicintai oleh
wanita yang sedang aku cintai. Seorang pria yang karenamu dia membagi
cintanya. Namun aku tak memahami semuanya sejelas aku memandang garis
pada kertas putih. Aku hanya tahu, namanya Wawan, Mas Wawan.

Tak banyak yang kuketahui tentang dia, tidak banyak.

Cukuplah aku hanya mengetahui bahwa dia sedang dicintai oleh wanita
yang sedang aku cintai. Cukuplah aku hanya mengetahui itu dan semoga
saja Mas Wawan juga mengetahui itu. Cukuplah bagiku dia yang kucintai
melanjutkan senyumnya. Bagiku itu sudah cukup.

Aku tak menginginkan cinta yang memaksa. Aku tak pernah ingin
menjadi manusia yang egois. Wahai engkau yang sedang kucintai, mengapa
kini engkau menyerah setelah aku merelakan hatiku tercabik olehmu.
Mengapa kini engkau mensia-siakan apa yang telah terlalu berat yang
kulakukan untukmu. Ayo, rebutlah cintamu itu dan berjanjilah untukku; KAU AKAN TERUS TERSENYUM PADA LANGIT BERBINTANG.

Saat Bintang Menjadi Iblis

Uncategorized No Comments »

Langit, mengapa kau membisu padaku dengan sejuta bahasa yang tidak dapat kumengerti atau itukah bahasamu?

?

Mengapa terus diam tanpa memberikan jawaban pasti. Tolong berikan
aku sedikit petunjuk, dengan pelangimu, gunturmu, petir dan hujanmu.
Aku ingin gemuruh, agar kalut aku dalam kebencian. Aku ingin badai dan
topan agar terseret aku dalam keheningan. Aku ingin sejuta muson yang
berlalu tanpa iklim dan musim. Aku ingin pelangi agar hanyut aku dalam
khayalan. Aku menginginkan itu.

?

Dan tidaklah bintang-bintang penghiasmu di malam itu mampu
menundukkan kejenuhanku. Tiada itu berarti bagiku, amat sangat tidak
dia berarti. Dan saat purnama menghias cakrawala malam dengan terangnya
yang mampu menyinari awan-awan malam juga tak membuatku menjadi lebih
tenang, atau saat sabit di penghujung bulan.

?

Haruskah engkau tetap diam wahai langit? Haruskah!

Ada berjuta keheningan di langit puncak sana, saat bintang beredar
pada lintasannya, saat satelit dan planet mengelilingi bintang, saat
mereka menjadi sistem dan pada yang besar beredar ke yang lebih besar.

Apakah engkau pernah melihat mawar di langit sana? Mawar yang amat merah, mawar yang amat cerah. Saat ledakan bintang terjadi.

Pada awal mula hitam di langit
Saat bintang menjadi iblis
Pada awal mula hitam di langit
Saat ledak bintang terjadi
Saat mawar menghias langit
Cerah merah membayangi langit
Saat cerah habis terjadi, saat itu bintang pun mati
Pada itu hitamlah langit
Ketika massa menjadi iblis

Kasihan, Bahkan Dikritik Salah. Lucu

Uncategorized No Comments »

Aku ingat, kejadiannya hari Sabtu, 24 November 2007. Tepatnya sekitar jam 17.00 WIB.

Saat itu aku ingin masuk pelajaran Perawatan Mesin namun
sayang, seperti kebiasaannya dosen tidak masuk (walau akhirnya masuk),
namun bukan itu yang ingin kuceritakan. Saat itu aku melihat dia, Sang Puteri dengan pacarnya. Cemburu? Tidak! Sama sekali tidak ada rasa cemburu, yang cuma ada rasa kasihan. Cuma itu!

Sudah sering aku mendengar dari kawan-kawan di HMM (Himpunan Mahasiswa Mesin) yang mengetahui bahwa dulu aku menyukainya (entah mereka sudah tahu bahwa sekarang ada sosok Taman Surga?
Semoga saja tidak, soalnya mereka bakal akan lebih tertawa girang kalau
aku patah hati, terlebih dengan orang yang benar-benar kucintai) bahwa dia sering berdua-duaan. Dari dulu aku tak pernah percaya, tak akan pernah.

Namun kali ini akan sangat berbeda. Aku melihatnya berduaan diruangan
A23-XXX. Letak ruangan itu bersebelahan dengan ruang yang ingin
kumasuki (mata kuliah Perawatan Mesin). Aku melihatnya berdua dengan
pria itu. Langsung saja aku kasihan, kok gini jadinya.

Trus aku sms, “Ga baik berdua-duan dengan yang bukan mahram di tempat sepi.”

Malam baru dibalas, “Beni, saya kira tujuan sms beni kemana. Tadi
saya cuma nulis aja di papan tulis soalnya ada yang sedang dibahas.”

Lalu balasku, “Apa ga ada tempat yang lebih terbuka dan ramai. Takutnya terjadi fitnah. Kan kamu anggota rohis.”

Dan balasnya, “Sebenarnya dari 2 tahun lalu saya ingin berhenti dari
rohis, cuma ntah kenapa nama saya masih ada di sana. Beni, saya adalah
saya.”

Akhirnya, “:) Beni memang konservatif. Kejadian yang tadi itu beni
ga suka. Terserahlah, toh manusia bertanggung jawab terhadap dirinya
sendiri.”

Setelah itu, percakapan pun terhenti. Aku yang biasa saja, merasa
sudah memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang teman untuk
mengingatkan dan dia yang tak kuketahui (insya Allah dia juga biasa
saja).

Lantas hari ini aku buka email, ternyata ada alert message dari
Friendster yang memberitahukan bahwa aku telah menerima testimoni dari
seorang teman. “Beni, bisa ga saya mintol? Tolong dung, hapus Nomor
HP nya dia..! Ga enak hati nih! Soalnya maren saya ngasi tanpa bilang2
ma dia. Beni tau dia dah da, kan? Beni, tolong jaga persahabatan yang
ada, ya..

Menerima testimoni gitu saya hanya senyum, lah, emang apa hubungan dia dah ada dengan saya sebagai teman sms?. Lalu pikiran langsung mengarah ke kejadian dua hari yang lalu.

Kalau memang gitu saya cuma bisa kasihan; Kasihan, Bahkan Dikritik Salah. Lucu.

Kadang manusia aneh ya? Atau aku yang aneh?

Ada komentar?

Maka Shalatlah Kamu

Uncategorized 49 Comments »

Setelah muntah-muntah, mengigil,
gemetaran, takut, sakau, dan kolaps, aku tak tahu harus bagaimana. Aku
benar-benar terkapar. Mungkin cuma sms dari Wendri yang membuatku tidak
malu untuk menangis. Mungkin cuma itu.

Lalu lembaran-lembaran Quran itu mulai kubuka, kubaca dengan tartil,
ayat demi ayat. Namun rasa sesuatu yang mengganjal di dalam hati ini
belum sepenuhnya terbebas. Masih banyak sesuatu yang tidak kumengerti
mengganjal di dalam hati ini. Dan aku tak tahu harus bagaimana.

Lalu kira-kira jam 10.00 bang Riza datang, soalnya aku ingin
mendaftar ERANET. Sebuah bisnis jaringan yang berkutat dalam bidang
pulsa elektrik. Sebelum bertemu bang Riza kusempatkan shalat dhuha
sejenak, tentunya dengan pergegas karena khawatir bang Riza akan
menunggu lama kedatanganku.

Setelah itu kami sama-sama ke Beurawe tepatnya ke BoES Studio
tempatnya bang Iskandar sang leader ERANET daerah Aceh. Padahal saat
itu aku belum juga mandi lho, soalnya hari ini aku ga ada kuliah.

Setelah urusan dengan ERANET selesai, bang Riza mengantarkan aku pulang
kembali. Ternyata di rumah ada bang Chaled, bawa nasi soto untuk
kakakku. Hohohoho…. kebetulan sekali lagi laper, sukses dah aku makan
nasi soto bagi dua dengan kakakku.

Setelah makan, aku langsung tidur plus berurai air mata. Jujur,
kejadian pagi itu belum mampu kulupakan dan masih menusuk relung ini.
Sebuah kejadian dimana aku tak tahu berada dalam posisi benar atau
salah hingga aku harus dicampakkan. Rasa yang tidak kumengerti itu
masih berjejal pejal liat di dalam dadaku.

Dekat-dekat azan Jumat baru aku terbangun, lalu langsung mandi.
Selama khutbah Jumat aku terus memikirkannya, terus memikirkan dia.
Jujur, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.

Pulang Jumat aku masih sesak, perasaan-perasaan itu masih
mengganjal. Lantas kuambil Quran dan kubaca lagi secara tartil, ayat
demi ayat, namun rasa itu tidak juga kunjung berhenti. Akhirnya pilihan
terakhir kulakukan, aku wudhu lalu shalat sunnah empat rakaat dua kali
salam. Alhamdulillah, rasa itu mulai reda sedikit. Lantas Quran di
tempat tidur kuambil kembali dan ku baca. Alhamdulillah, rasa itu
semakin mereda.

Maka shalatlah kamu!

Setelah rasa itu reda, aku contact bang Qudri, ”Bang, Beni lagi sedih, gi patah hati neh. Kasi tausiah donk.” Sms-ku.

Tak lama berselang, sebuah sms masuk ke inbox-ku. Sms dari bang Qudri.

Rasulullah pernah bersabda ke Abu Dzar Al-Ghifari; 1.
Perbaikilah perahumu karena lautan itu sangat dalam, 2. Carilah
perbekalan yang lengkap karena perjalanan itu sangat jauh, 3.
Kurangilah beban karena rintangan amatlah sulit untuk diatas, 4.
Ikhlaslah dalam beramal karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat
Yang Maha Melihat.

”:). Makasih bang, ada lagi yang lain?” Balasku.

Ya Allah berikanlah hamba seorang istri yang shalehah, yang
ketika bersamanya hamba akan merasa dekat dengan-Mu, seorang wanita
yang dapat menyejukkan hati hamba serta dapat menjadi partner dakwah-Mu.

Dua sms itu cukup membuatku mengerti. Lantas aku pun bertanya, “Bang, gi dimana? Ngopi yok!”

Dan waktu pun akan terus berputar. Esok, siapa yang tahu.

Cinta Itu Berat

Uncategorized No Comments »

Sumpah aku benar-benar mencintainya. Cinta yang dalam yang sedang
kurasakan. Aku masih menyimpan SMS tanggal 9 Juli 2007 jam 3:59 pagi
saat dia juga berkata suka padaku, aku masih menyimpannya hingga
sekarang. SMS yang selama ini kukenang. SMS yang jika kubaca mampu
membangkitkan semangatku ditengah keletihan jiwa, SMS yang selalu
kumaknai mampu membuatku menempus atmosfir-atmosfir bumi untuk meluncur
ke langit ketujuh. Sumpah!

Salahkah aku?

Aku mungkin bukan pria seperti pada umumnya. Aku tak mudah untuk
melupakan cinta, tidak mudah. Saat pagi ini tanggal 23 November 2007
jam 6.00 pagi dia sms ingin berteman saja denganku, aku cuma bisa
pasrah. Saat menerima itu, aku menggigil, muntah-muntah, tanganku
gemetaran, aku serasa sakau. Sungguh, cinta itu amat berat dan dia amat
menyakitkan.

Sungguh, ingin rasanya aku menahan segala keinginannya untuk lari
dariku, sungguh aku menginginkan itu namun aku tidak mampu. Sudah cukup
tangisan-tangisannya selama ini, aku tak ingin ada tangisan itu lagi.
Sungguh aku tak ingin dia menangis lagi. Jikapun dengan melepaskannya
mampu membuat satu senyum tipis di hatinya, aku rela! Yah, aku rela!
Walau dengan konsekuensi aku harus teramat terluka. Teramat sakit.
Hingga ingin muntah rasanya, bukan cuma ingin tetapi aku benar-benar
muntah. Mengigil, ketakutan, kalut, bahkan untuk mengetik tuts keypad
handphone saja terasa amat sulit. Aku benar-benar kacau. Aku kolaps.

Tuhan, aku sungguh tak mengerti. Apakah sebuah cinta yang teramat
tulus tidak cukup untuk membuat kita dicintai? Tidakkah cukup itu?
Harus apalagi!

Sungguh, di dalam diri ini seperti ada yang memberontak. Sungguh, di
dalam diri ini ada yang ingin mempertanyakanku. Kamu bodoh Ben! Teramat
bodoh! Masih memikirkan perasaan orang lain sedangkan perasaanmu
berantakan, KAMU BODOH! TOLOL! BEGO! PAOK!

Sungguh, cinta itu teramat berat. Amat sangat berat ia dan amat
menyakitkan. Harus ada yang dikorbankan saat dirimu siap untuk
mencintai, termasuk dirimu.

Sungguh cinta itu amat berat, teramat berat saat keegoisanmu
dibenamkan dalam-dalam hingga dialah yang menjadi illah bagimu. Sungguh
amat berat cinta itu adanya.

Aku ingin nangis, tapi aku malu. AKU PRIA! Sampai Wendri mengirimkan pesan, ”Pada
mulanya adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu. Pada
mulanya adalah hati, lalu perjuangan dari ragu ke ragu. Windri ga bisa
ucap apa-apa, kecuali menangislah beni, apa yang akan terucap jika air mata berbicara lebih dari segalanya. Pria juga memiliki kelenjar air mata kan? MENANGISLAH. Kamu tidak salah!

Taman Surga, itu julukan untuk wanita yang selama ini amat
kucintai itu. Wanita yang mampu meruntuhkan hatiku. Wanita yang
benar-benar ingin kunikahi. Wanita yang hingga saat ini masih tak mampu
kumengerti.

Sudah cukup! Cukup! Cukup!

Lantas semuanya menjadi hening, aku terbenam dalam ekstasi
keheningan. Sebuah sunyi padat yang membungkus dan amat luas. Dimana
kamu bukan dirimu.

”Ben…”

Aku melongok ke samping, ada satu senyum lembut di sana, senyum yang selama ini kurindukan, juga kutakuti. Senyum illah-ku.

”Patah hati lagi ya?” Dia bertanya lembut.

”…” hanya ada sejuta diam yang mampu kuberikan.

”Mana yang kamu inginkan? Seorang wanita yang kamu rasa kamu cintai
untuk menjadi pendampingmu menuju surga atau seseorang yang Aku pilih
untukmu?”

”…” aku masih terdiam.

”Belum tentu yang kamu anggap baik dan kamu cintai itu yang terbaik untukmu. Namun pilihan-Ku pasti yang terbaik untukmu!”

Ada harapan dari kata-kata itu.

”Bersabarlah, dan menunggulah. Sungguh Aku mencintai mereka yang
bersabar,” suara itu terdengar amat tegas. ”Bukankah Aku sudah
menjanjikan lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan wanita yang
baik untuk lelaki yang baik pula? Apa kamu meragukannya?”

Tiba-tiba saja aku teringat penggalan dari lagu Maydani,
sabarlah menanti, usahlah ragu, kekasih kan datang sesuai dengan iman
dihati. Sabarlah menanti, bila di dunia dia tiada moga di surga dia
menanti …

Dan aku tersenyum…

”Tuhan, cinta itu amat berat ya? Amat sangat berat ia dan
menyakitkan. Tuhan, untuk melupakan cinta ini berapa tahun engkau
berikan waktu untukku? Jangan terlalu lama.” Keluhku.

Tuhan, jika kelak engkau memberikan cinta lagi untuk ketiga kali.
Mohon tetapkanlah hatiku padanya dan hatinya padaku hingga aku mampu
mengajaknya mendaki surga bersamaku. Jangan biarkan kami tergelincir di
persimpangan jalan, hingga aku kembali merasa kesepian.

Tuhan, cinta itu berat ya. )

Aku, Fifi, Wendri

Uncategorized No Comments »

m_beben31108 : fi
m_beben31108 : kita maen simulasi mo ga
asrizal luthfi : simulasi pa?
m_beben31108 : seandainya fi suka sama seseorang
m_beben31108 : winda misalnya
asrizal luthfi : trus..
m_beben31108 : si winda suka juga sama someone di daerah yang jauh, jawa misalnya
m_beben31108 : trus someone itu ada sakit2
m_beben31108 : dan dia minta winda cari cowo aja di banda
m_beben31108 : dan dekatlah winda sama fifi
m_beben31108 : fifi tau winda suka sama someone tu tapi ga tau kalo ampe si winda juga niat nikah sama someone tu
m_beben31108 : sampe akhirnya fi ajak winda nikah
m_beben31108 : trus winda mau
m_beben31108 : karena fi baek dan cinta ma dia
m_beben31108 : trus
m_beben31108 : pada suatu hari fi tau kalo winda dah suka ama someone tu
m_beben31108 : ampe dia bingung, seharusnya dia milih fi atau someone tuh
m_beben31108 : nah
asrizal luthfi : curhat nih ceeritanya…
m_beben31108 : waktu fi tau itu gmn perasaan fi
asrizal luthfi : ancur
asrizal luthfi : tapi kita harus berbesar hati..
asrizal luthfi : itulah realitas hidup…
asrizal luthfi : kita harus selalu siap…
m_beben31108 : trus kalo winda milih fi, apa fi masih mau ?
m_beben31108 : di saat hati fi yang hancur gitu
asrizal luthfi : tergantung…
asrizal luthfi : tapi pada dasarnya fi ga mau nikah sama orang yg ga cinta/sayang sama fi…
m_beben31108 : kalo sama winda gmn
m_beben31108 : kan fi suka ma dia
m_beben31108 : tapi dalam kasus ini si winda juga suka ama fi
asrizal luthfi : kalo winda lebih suka sm dy…fi rela kok…
asrizal luthfi : fi ikhlas…
m_beben31108 : tapi someone itu jauh
m_beben31108 : itu alasan si winda
asrizal luthfi : that not a problem…
m_beben31108 : trus winda jg dah minta someone itu buat cari cewe laen
m_beben31108 : itu bukan masalah kan
m_beben31108 : -?
m_beben31108 : beni jd makin bingun
m_beben31108 : (
asrizal luthfi : kalo fi mah bakal nge dorong supaya mereka bersatu…
asrizal luthfi : nih..
asrizal luthfi : fi buka kartu nih…

* sensored *

asrizal luthfi : winda cerita sama fi kayak gitu…
asrizal luthfi : apa yg bisa fi buat…
m_beben31108 : itu bukan bk kartu :))
m_beben31108 : dah lama winda cerita
asrizal luthfi : fi hanya mendorong orang yg saling mencintai u bersatu..
m_beben31108 : si rahma suka ma fi ya ?
m_beben31108 : hmmm
asrizal luthfi : oo gitu…
asrizal luthfi : bagus kalo gitu…
m_beben31108 : sebenarnya itu kisah datul ma beni fi
m_beben31108 : beni bingung
m_beben31108 : datul cinta ma beni berapa %
asrizal luthfi : beni tanya aja langsung…
asrizal luthfi : ga usah ragu…
m_beben31108 : beni mau datul dapat yg terbaik
asrizal luthfi : kalo ga, biar fi tanya…
asrizal luthfi : ada alamat ym nya ga.. he..he..
m_beben31108 : sebenarnya salah satu alasan beni mo nikahin datul karena beni ga mau dia nangis lagi
asrizal luthfi : bagus kalo gitu..
m_beben31108 : beni ga mau lagi ada air mata keluar dari mata dia
m_beben31108 : x(
m_beben31108 : sms ja
asrizal luthfi : sori nih fi kurang perhatian sekarang..
asrizal luthfi : sdg bnyak fikiran…
m_beben31108 : ciee
m_beben31108 : iyah
m_beben31108 : ampe2 strain gauge beni ga dibeli
m_beben31108 : dah berapa lama itu ya
m_beben31108 : mentang2 beni ga mo repotin fi dgn bilang lom terlalu mendadak
m_beben31108 : eh malah ga dibeli
m_beben31108 : x(
asrizal luthfi : lain kali bilang aja ben..
asrizal luthfi : kalo memang udah butuh..
asrizal luthfi : soalnya sekarang semua antri…
m_beben31108 : antri ?
m_beben31108 : maksudnya
asrizal luthfi : tugas fi aja ada yg 2 minggu udh lewat belum fi kumpul
asrizal luthfi : kalo ga fi sempatin, ga akan ada yg sempat..
asrizal luthfi : maksudnya, kerjaan yg antri..
m_beben31108 : ooo
m_beben31108 : kerjain dulu tugas fi
m_beben31108 : fi jgn suka menunda2 pekerja
m_beben31108 : ntar macam baju maren, dah jamuran
m_beben31108 : =))
asrizal luthfi : iya..
asrizal luthfi : kayaknya perlu segera nyari ‘asisten’ …
asrizal luthfi : istri maksudnya…
asrizal luthfi : hahaha…
m_beben31108 : =))
asrizal luthfi : udah dulu yak…
asrizal luthfi : mau ngerjain tugas…
m_beben31108 : ok
asrizal luthfi : salam sayang u datul..
m_beben31108 : hanjrit
m_beben31108 : awas ko fi
m_beben31108 : datul itu istri beni !!!
m_beben31108 : calon maksudnya
asrizal luthfi : kalo bole tau..siapa pacarny yg di jawa..
asrizal luthfi : jgn2 fi pula…
m_beben31108 : ga
m_beben31108 : mana ada fi kena kanker
m_beben31108 : =))
asrizal luthfi : ya sud..
asrizal luthfi : kita bersing secara sehat…
asrizal luthfi : tapi kyknya beni bakal kalah
asrizal luthfi : salnya fi punya gajah…
asrizal luthfi : hehehe….
asrizal luthfi : nih buat datul :*
m_beben31108 : astagfirullah
m_beben31108 : datul bkn wanita seperti itu
m_beben31108 : ga akan termakan dengan rayuan dunia

itu percakapanku semalam dengan temanku Fifi. Lantas tadi pagi datul
sms minta agar temenan ajah. Huff… berat banget rasanya, mana baru
gempa lagi.

Trus aku sms Wendri, ”Wen, gi ngapain? Napa kalo beni sedih,
kalut, bingung, ada masalah dengan datul beni jadi ingat Wendri. Beni
bingung Wen, pusing. Mo nangis, ada sesuatu yang ingin beni keluarkan,
tapi ga bisa!

Lantas kemudian sebuah jawaban indah muncul, ”Pada mulanya
adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu. Pada mulanya adalah
hati, lalu perjuangan dari ragu ke ragu. Windri ga bisa ucap apa-apa,
kecuali menangislah beni, apa yang akan terucap jika air mata berbicara lebih dari segalanya. Pria juga memiliki kelenjar air mata kan? MENANGISLAH. Kamu tidak salah!

Ah… episode pagi ini; Aku, Fifi, Wendri.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in