Sudahlah Pria, Tak Perlu Menangis Hanya Karena Cinta
Uncategorized 1 Comment »Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Tiba-tiba saja pria di sampingku bertutur demikian. Yah, aku memang
sedang menangis. Menangisi diriku sendiri, menangisi cintaku.
Rasanya telah terlalu lama aku bersabar, terlalu lama. Rasanya tak
ada lagi yang ingin aku simpan untuk hanya menjadi beban, rasanya ingin
ku ungkap semua rasa. Ingin ku ungkap semua perih ini, semua sakit ini,
semua beban rindu ini.
Bidadari, mengertikah kamu?
Bertarung aku sendirian melawan perasaan diriku. Bertarung sendirian! Mengertikah kamu?
Mencabik tiap rasa yang tumbuh dari akar hati ini, mencabik
terus-menerus hingga tak ada yang tersisa namun akar tetaplah menjejak
dalam bumi! Mengertikah kamu?
Memohon Tuhan menghapus rasa ini agar dia kembali normal, memohon
dengan sangat padahal dianya adalah fitrah setiap manusia. Aku memohon
keburukan untuk sesuatu yang menjadi fitrahku! Mengertikah kamu?
Kamu tidak pernah mengerti bidadari karena aku tak pernah
mengatakannya kepadamu. Dan aku berharap rasa itu tetap terkubur rapat
di dasar terdalam hatiku. Aku ingin engkau tidak pernah tahu. Aku ingin
rasa itu cukup aku yang mengerti. Aku ingin kita tetap seperti dulu!
Mengertikah kamu?
Nanti. Nanti jika rasa itu telah halal untukku ungkapkan, akan aku
ceritakan hingga bagian terkecil yang bahkan engkau pun menjadi ragu,
”adakah ia di dalam diriku.”
Nanti. Nanti jika kamu telah siap dan aku telah mampu berdiri tegak.
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Kali ini lelaki di sampingku menepuk pundakku. Posisiku tercekung,
kedua tanganku melipat kakiku yang menyiku, rapat hingga belikatku
menembus kulit punggungku. Kepalaku berada diantara dua siku lutut yang
saling beradu. Di antara betisku, ada air dari kedua mataku. Dibawah
kakiku, pantatku, bayangku, pepasiran telah basah. Sungguh, aku sedang
menangis wahai bidadari. Aku menangisi diriku karenamu. Karena kamu…
Lelaki itu mulai memelukku, pelukan yang erat namun terasa lembut.
Amat sangat lembut dan menenangkan. Entah mengapa aku serasa dalam
ekstase. Ada sedikit beban yang hilang.
Kali ini, pelukan itu serasa lebih erat. Lelaki itu mengencangkan
pelukannya kepadaku. Samar aku mendengar dia berbisik lirih, ”Pria…”
Aku serasa tak peduli. Aku hanya ingin kembali menata hatiku. Ada
banyak cobaan yang kuhadapi, ada banyak rintangan, namun mengapa soal
urusan cinta menjadi yang terberat? Mengapa harus cinta? Mengapa tidak
yang lain yang jelas siapa kawan dan siapa lawan. Terhadap cinta,
bahkan para pahlawan menjadi lemah dan tak berdaya.
”Aku mengerti pria apa yang sedang kamu rasakan. Aku pernah seperti
itu, bahkan lebih berat. Namun kamu tidak perlu menangis.” Lelaki di
sampingku berbisik samar.
”Apa salah aku menangis?”
”Menangislah terhadap Tuhanmu, itu akan lebih berguna daripada untuk
dirimu sendiri. Karena Tuhanmu lebih mengerti dirimu daripada dirimu
mengerti tentang kamu.” Jawab lelaki itu.
Aku mengatup mulutku, mengigit bibir bawah. Lelaki di sampingku itu
benar, seharusnya aku seperti apa yang dia ucapkan, seharusnya. Namun
hati ini masih terlalu rindu, dan rindu itu tertahan hingga yang
mengalir hanyalah air mata.
”Apa kamu tahu lelaki, air mata ini bukan aku yang menginginkan. Dia
memancar dengan sendirinya seperti mata air. Mata air dari hati yang
sedang merindu.” Aku jujur.
Pelukan itu kini terasa lebih erat dari sebelumnya, lelaki itu tidak
juga hendak melepaskan pelukan itu, pelukan semakin mengencang. Aku
merasa seperti sesosok yang begitu lemah dalam pelukannya, aku merasa
telah kehilangan aku yang jantan. Tuhan menciptakan manusia sempurna,
dalam kesempurnaan Tuhan juga menciptakan hati, dan karena hati maka
pria paling jantan pun menjadi seperti mati.
”Hapuslah tangisan itu pria, hapuslah!” Lelaki itu kini menegas.
Air mataku bukan terhenti malah semakin mengucur deras. Aku
benar-benar tak sanggup untuk menghentikan tangisan ini, aku sama
sekali tak sanggup. Andai lelaki itu mengerti apa yang sedang aku
rasakan, andai ia mengerti apa yang berkecamuk di dalam dada, anda ia
tahu.
”Bukanlah sudah kukatakan aku juga pernah seperti itu.” Tiba-tiba
lelaki itu berkata seolah membaca apa yang kupikirkan. Tiba-tiba aku
menjadi takut, apa dia iblis atau malaikat yang terutus untuk
menenangkan aku? Aku takut.
”Andai aku mampu tegak sedari dulu. Andai aku mengucapkan lebih awal.” Aku mengingat kesalahanku.
Tiba-tiba lelaki di sampingku itu berdiri, mungkin hendak beranjak.
Kini dia berdiri di depanku. Badannya sedikit dirukukkan, kedua
tangannya memegang pundakku. Kini dia berjongkok di depanku. Aku
terkejut. Dia juga menangis.
”…” Episode diam.
Kali ini dia memelukku erat hingga aku merasa sesak. Aku mampu mencium bau harum minyak rambutnya, wangi khas seorang pria.
”Bukankah sudah kukatakan, aku juga pernah seperti kamu. Bukankah
sudah kukatakan!” Ucapnya lirih. ”Tolong jangan menangis lagi pria, tak
perlu ada air mata yang harus dialirkan oleh mata seorang pria hanya
karena cinta. Tangguhlah, bersabarlah, semoga Tuhan memberikan yang
terbaik dari kisah-kisah kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang paling baik
yang akan memberikan yang baik-baik dan terbaik untuk kisah-kisah
terbaik. Jangan meragukan Tuhan pria, jangan sama sekali. Bersabarlah
pria, dan tak perlu menangis.”
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Aku tak menyangka akan seperti ini. Dia adalah wanita terbaik yang
pernah kutemui diantara semua wanita di dunia ini. Aku mengagumi betapa
lembut dan tangguh ruhiyahnya. Aku kagum akan keistiqamahannya.
Bagaimana dia tahajud di setiap penghujung malam, bagaimana
senin-kamisnya tak pernah sepi dari rasa lapar karena puasa sunnah,
bagaimana dia berusaha mensucikan hatinya.
Aku merasa telah menemukan apa yang sedang kucari selama ini. Bidadari.
Lahiriahnya, aku mencintainya. Ruhiyahnya lebih aku cintai daripada
lahiriyahnya. Tak banyak wanita yang seperti dia, tak banyak. Bahkan
aku berani sumpah!
Bahkan seribu bidadari tak akan lebih baik daripada dirinya.
Keutamaan dirinya daripada bidadari adalah seperti yang tampak dengan
yang semu. Seperti kebenaran dengan khayalan. Kebenaran tetap lebih
indah daripada sekedar khayalan. Karena Tuhan menyinari wajahnya dengan
keimanan.
Dan orang itu pasti adalah pria yang terbaik. Hanya yang terbaik mendapatkan yang terbaik. Quran telah menjanjikan itu.
Apalah aku. Dengan keimanan yang carut-marut, dengan ruhiyah yang
fluktuatif, aku benar-benar yang terburuk daripada yang terburuk. Aku
merasa bahwa aku generasi gagal tarbiyah.
Dari sisi keimanan, tentu Tuhan lebih mencintai dia daripada aku.
Tentu Tuhan lebih memberikan yang terbaik bagi dirinya daripada bagi
diriku. Tuhan memiliki keinginan tersendiri terhadap kisahku dan
kisahnya. Hingga pada suatu kisah seorang pria terbaik ditakdirkan
untuk wanita terbaik.
Aku pasrah…
Karena cinta, aku menginginkan segala hal terbaik untuk orang yang
terkasihi. Aku menginginkan segala yang terbaik untuknya. Aku
menginginkan itu. Jujur aku memang menginginkannya, namun rasanya lebih
pantas jika seorang pria lain yang terbaik untuk dirinya. Seorang pria
dengan dedikasi kuat, keimanan baja, tangguh, sabar, dan penyayang.
Seorang pria yang mencintainya bukan karenanya tetapi karena Allah.
Bidadari, aku mencintaimu karena Allah.
Aku mulai mengerti rasa yang berkecamuk di dalam diriku ini
sebenarnya apa, sekarang aku mulai mengerti setelah aku mulai bisa
mengeja bahwa tidak lama lagi kita akan berjarak. Baru aku menyadari
betapa segala kekagumanku selama ini terhadapmu, segala keistiqamahanmu
itu membuatku mencintaimu. Bidadari, aku mencintaimu karena Allah. Dari
itu aku sadar, walau aku akan berjarak denganmu namun ada satu yang
tidak pernah berjarak denganku dan aku tak akan pernah kehilangan Dia.
Aku tidak akan pernah kehilangan Tuhanku.
Lantas Tuhan berfirman, shibghah manakah yang lebih baik daripada shibgah Allah.
Bidadari, aku mencintaimu karena Allah.
Sudahlah pria, tak perlu menangis hanya karena cinta…
Cerita ini kupersembahkan untuk seorang temanku yang terluka oleh
cinta, untuk seseorang teman yang memendam cinta terhadap seorang
bidadari yang akan dikhitbah oleh pria lain yang terbaik. Temanku,
bersabarlah, tak perlu ada tangis dari mata pria karena cinta. Semoga
Tuhan menceritakan kisah terbaik untuk dirimu dan dirinya.